• Blog Stats

    • 60,866 hits
  • Categories

  • Archives

Output Perguruan Tinggi dan kebijakan pemerintah sebagai cara pemecahan masalah bangsa

Berikut merupakan anugerah  dari yang Maha Kuasa yang diperoleh penulis  sebagai oleh oleh dari kunjungan ke Pardubice University, Czech Republic.

Statuta Universitas Indonesia (UI) mencanangkan visi UI untuk menjadi pusat ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebudayaan yang unggul dan berdaya saing, melalui upaya mencerdaskan kehidupan bangsa untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sehingga berkontribusi bagi pembangunan masyarakat Indonesia dan dunia. Sementara dalam Kebijakan Umum (KU) butir 4.b menyatakan bahwa pengembangan UI bertumpu pada perwujdan integrasi akademik berlandaskan pendidikan inter, multi, lintas, trans-disiplin serta hibriditas keilmuan dengan tetap memperhatikan ilmu ilmu dasar. Saya akan memfokuskan pada kata kunci : meningkatkan kesejahteraan masyarakat, kontribusi pada masyarakat Indonesia dengan cara ikut memecahkan masalah bangsa dan dunia.

Disini akan diberikan studi kasus nyata terkait dengan pengalaman untuk berkunjung ke KBRI di PRague (Praha). Pertanyaan terbesar.. bagaimana cara sampai ke sana dari kota kecil Pardubice di tengah negara dengan bahasa Cesky.

Langkah pertama adalah menggunakan teknologi informasi yakni dengan browsing di internet dan ketemula situs KBRI di Praha http://www.indonesia.cz yang ditautkan dengan http://www.kemlu.go.id/prague/Pages/default.aspx. Dari situs itulah saya berkomunikasi dgn staff KBRI, untuk mencapai kesanan saya disarankan mulai dari Stasiun Andel dan naik bus 191 turun di daerah Pod Lipkami. Staff itu pun mensarankan saya untuk mempelajari situs transportasi kota Praha berikut, http://www.dpp.cz/en/. Di sini saya bisa mempelajari bagaimana membeli tiket apa yang harus dibeli

http://www.dpp.cz/en/ticket-sales/

Kemudian saya ambil menu journey planner, dan memasukkan asal dan tujuan, dan keluarlah alternative solusi yang sangat rinci, naik apa saja (tram lalu bus), pemberhentian yg akan dilalui apa saja dan jam berapa, dimana harus stop dan harus nyambung di stopan yang mana. Saya masukkan asal Praha hl. n. dan tujuan Pod Lipkami, dgn opsi with transfer – at most 4 dan didapat informasi berikut:

Dan setelah langkah dan petunjuk di atas diikuti.. alhamdulillah… sangat membantu hanya perlu ditambah keberanian untuk bertanya….

Lalu dimana kaitannya dengan Visi UI? Pendapat saya, informasi yang mudah didapat dan akurat yang mendukung satu aktfitas manusia.. yakni…mobilitas orang.. transportasi yang sangat lancar dan dapat dipercata dalam suatu negara akan sangat mendukung kelancaran aktifitas dan perekonomian negara itu. Jadi ini bisa mendukung pemecahan masalah masyarakat, mampu menarik pendatang dari luar (misalnya wistawan) dan mereka akan merasa nyaman.

Dimana kaitannya dengan KU UI? Pendapat saya,.. pengelolaan informasi transportasi tersebut melibatkan disiplin paling sedikit, ilmu seperti teknologi informasi (ilmu komputer), transportasi, kebijakan publik, management, dan ilmu politik.

Terakhir..ttg politik.. harus ada kemauan dari pembuat kebijakan baik wakil rakyat dan pemerintah untuk bisa menerapkan hasil kajian multidisiplin terkait masalah bangsa ini untuk kesejahteraan masyarakat. Karena tanpa ada kebijakan, maka teknologi yang berdampak positif bagi masyarakat.. hanya akan menjadi hiasan di perpustakaan perguruan tinggi. Wallahu’alam…

Catatan:

Tulisan ini juga ditampilkan dalam ajang pemilihan Rektor yang tak diikuti secara lengkap oleh penulis. Saat penulisan,  penulis sedang  berada di  Faculty of Engineering and Informatics, Pardubice University, Czech Republic,  http://www.upce.cz/english/feei/index.html

 

Advertisements

satu pengelola jurnal – konf nasional – internasional di Indonesia – mungkinkah?

Sering sudah saya perhatikan masign masing Perguruan Tinggi menerbitkan jurnal, konferensi nasional atau bahkan internasional dalam subject tertentu yang sama. Seolah masing masing ingin bersaing, atau mungkin menampilkan diri bahwa institusinya juga bisa berbuat sesuatu. Padahal kalau dibuat dan dikelola secara bersama, insya Allah lebih efisien, lebih berkualitas dan membuka peluang kerjasama yang lebih positif — dibandingkan kalau masing masing berkumpul sendiri, dengan undangan beberapa kolega sehingga mengklaim sebagai tingkat nasional atau internasional.

apakah akan ada kesempatan kita bisa memunculkan issue perlunya membuat SATU jurnal level nasional yang diprakarsi oleh beberapa perguruan tinggi? Misalnya untuk bidang ilmu komputer atau teknologi informasi Pengelola bisa Asosiasi Peneliti Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi (APIKTI) yg bisa dibentuk kapan saja dalam waktu dekat. Alasannya — masing masing PT tidak perlu mengelola sendiri dan seolah bersaing — kita bisa membentuk menjadi tim kuat di nasional, kepengurusan bisa digilir setiap satu/dua tahun. Hal yang sama juga pada event konferensi international.

Apakah ini bisa diwujudkan? Kalau tidak, kenapa?

Grid and Cloud Computing in Indonesia : challenges and prospects

presentasi dalam kuliah umum di FTI Universitas Yarsi, Rabu, 27 April 2011, lihat rinciannya di

http://telaga.cs.ui.ac.id/~heru/publications/talk-yarsi-grid-cloud-110427-ver2.pptx

Security Lessons Still Lacking for Computer Science Grads

Security Lessons Still Lacking for Computer Science Grads
InfoWorld (04/22/11) Robert Lemos

The number of software development and engineering jobs has grown significantly over the last five years, with social media software engineers, mobile applications engineers, and cloud infrastructure experts in the highest demand, according to Indeed.com.  Meanwhile, the U.S. Bureau of Labor Statistics expects the job market for software engineers to grow by a third over the next seven years.  However, top computer science programs do not require students to learn the fundamentals of secure programming, which could hurt application security in the future, says Mykonos Software CEO David Koretz.  He recently started working with the Rochester Institute of Technology to improve the security readiness of computer science graduates.  Other companies, including Microsoft and Solera Networks, also have launched efforts to boost security training and reduce the number of vulnerabilities found in applications.  Recent breaches of major online service providers, including Google, Facebook, and Twitter, have highlighted the need for more secure programming.  “To me, not only is it not surprising [that we are seeing these incidents], it seems exactly what we set ourselves up for,” Koretz says.
http://www.infoworld.com/t/application-security/security-lessons-still-lacking-computer-science-grads-769

Boosting Biology with High Performance Clouds

Asoke K. Talukder, Ph.D


There is a general interest to quantify biology to help growth of economy and affordable healthcare without causing much damage to the environment. This interest is both at the political level and at the scientific levels. From nutritional security to biofuel and beyond, all have roots in quantification of biology, we need to understand the theory behind all biological events that happen around us, whether within a cell due to a pathogen or in the environment due to the toxic industrial waste.

To manage this range of biological event, we need to understand the cause and effect equation of biological events. This is the reason, biology as a whole is embracing technology at an unprecedented rate. The main challenge in quantifying biology is that most of the biology problems are NP-hard; they need supercomputers to solve almost any problem. Therefore, biosciences research was always been the domain of computational elites who has access to large supercomputers.

see details at

http://www.hpcinthecloud.com/features/Boosting-Biology-with-High-Performance-Clouds-119612419.html?page=1

kelompok penilai

Kelompok penilai adalah sekumpulan dosen (biasanya) yang menilai suatu ujian (ujian mata kuliah atau ujian sidang tugas akhir : skripsi, tesis, disertasi). IMHO, seorang dosen dipercaya mempunyai keahlian di bidangnya termasuk di bidang yang ia tanyakan.  Sehingga ia berhak untuk menilai apa yang ia tanya  ke mahasiswa berdasarkan jawaban mahasiwa tersebut.

Penilaian kelompok akan tidak wajar atau aneh atau  bias, jika sejumlah penilai memberikan nilai yang jauh berbeda untuk pertanyaan/soal  yang SAMA (misal dosen a,b,c berturut turut memberikan nilai 90, 92 dan 60).  Untuk menghindari ketidakwajaran ini biasanya perlu diadakan rekonsiliasi/klarifikasi di antara penilai yang jauh berbeda. DAri hasil diskusi mereka bisa saja terjadi kesepakatan suatu nilai baru yang tak jauh berbeda, untuk contoh di atas bisa berubah menjadi 90, 92, 89, atau  80, 82, 78.

Bagaimana jika satu kuliah diadakan secara paralel dengan sejumlah dosen?  Akan kurang bijak jika masing masing dosen memberikan soal yang berbeda dan penilaian yang berbeda.  Sebaiknya materi kuliah sama, soal ujian sama, dan waktu ujiannya juga sama. Untuk menghindari ketidakwajaran sambil menghargai wewenang dan keahlian dosen maka dapat dibuat sekema sbb:

a. jika diasumsikan ada 3 dosen (a,b,c), tiga kelas paralel  dan 3 ujian/penilaian  (u1,u2,u3) dalam satu semester untuk kuliah yang diajarkan, maka soal u1 dibuat DAN  dinilai oleh  a, soal u2 oleh b, dan soal u3 oleh c.

b. atau kombinasi dari ini, misalnya di masing masing ujian u1, u2, u3 ketiga dosen membuat soal dan jawabannya. maka ketiga dosen tersebut juga turut memberikan penilaian HANYA pada soal yang ia buat.

Bagaimana dengan ujian/sidang tugas akhir? Selama ini di beberapa program studi/fakultas/perguruan tinggi menilai suatu tugas akhir pada beberapa aspek dan sang pembimbing juga mempunyai porsi penilaian. Untuk ini agak berbeda dengan ujian pada kuliah, karena bisa jadi walaupun aspek yang dinilai sama, namun pertanyaan dari dosen yang berbeda biasanya BERBEDA sehingga kemungkinan besar ia akan memberikan nilai yang JAUH BEDA  (berdasarkan jawaban mahasiswa ) dengan penilai lain pada aspek yang sama. IMHO,  dalam hal ini panitia penguji/ketua penguji tidak bisa memaksakan diadakan rekonsiliasi di antar penguji karena masing masing penguji memberikan pertanyaan yang berbeda dan mendapat jawabannya dari sang mahasiswa.

Mungkin suatu solusi/kesepakatan  bisa dilakukan, misalnya jika tugas akhirnya di terima tanpa revisi maka nilainya A+, dengan sedikit revisi nilainya A-, dengan major revision nilainya B+, harus mensubmit ulang (mengulang eksperimen dan analisis) nilainya B. dst…. Kalau pengalaman saya mendengar/membaca dan terlibat sebagai external examiner (S2 atau S3), penilaian tugas akhir diserahkan ke  para penguji. Penilaiannya tak dalam bentuk angka atau grade, tapi  tugas akhir diterima tanpa revisi, dengan minor revision, major revision, resubmit, tidak diterima.  Suatu tugas akhir dinyatakan lulus jika diterima (harus dengan revisi jika ada penguji/penilai memintanya melakukan revisi).

ini sekedar pendapat saya pribadi yang mungkin salah dan kurang berkenan bagi pembaca. anda mungkin punya pendapat lain, silahkan berbagi.

Molecular Dynamic analysis with Gromacs: Part of Indonesian Herbal Farmacological activities screening in Silico study

Molecular Dynamic analysis with Gromacs:  Part of Indonesian Herbal Farmacological activities  screening  in Silico study
On a  Cluster computing  environment.